10 Tradisi Jawa Terbaik – Kebiasaan – Budaya Tautan Sponsor

10 Tradisi Jawa Terbaik – Kebiasaan – Budaya
Tautan Sponsor

Suku Jawa dikenal sebagai suku dengan jumlah penduduk terbesar di seluruh Indonesia. Hampir di setiap pulau di Indonesia, orang Jawa pasti selalu ada. Selain dikenal memiliki kepribadian yang ramah, orang Jawa juga memiliki sejarah tradisi dan budaya yang luar biasa, seperti halnya suku-suku lain. Ini dibuktikan misalnya dengan banyaknya jenis tarian, musik, rumah tradisional, dan upacara yang mereka miliki. Sekarang, kami ingin menjelaskan lebih lanjut tentang 10 upacara tradisional Jawa yang membuat suku ini dikenal di seluruh dunia.
iklan

1. Upacara Kenduren

Upacara tradisional Jawa pertama adalah kenduren atau selametan. Upacara ini dilakukan secara turun-temurun sebagai doa peringatan yang dipimpin oleh para tetua adat atau pemimpin agama.

upacara ini mengalami perubahan besar, doa Hindu / Budha yang semula digunakan kemudian diganti dengan doa Islam; selain itu persembahan juga menjadi tidak digunakan lagi dalam upacara ini.

Berdasarkan tujuannya, upacara tradisional Jawa ini dibagi menjadi beberapa jenis termasuk:

    Kenduren wetonan (wedalan) adalah upacara kenduren yang diadakan pada hari ulang tahun seseorang (weton) dan dilakukan dengan makna untuk mengucapkan doa seumur hidup bersama. (lihat juga: Kain Batik Jawa)
    Kenduren sabanan (munggahan) adalah upacara yang dilakukan untuk menghormati leluhur orang Jawa sebelum memasuki bulan puasa. Upacara kenduren ini umumnya dilakukan pada akhir bulan Sya dan sebelum ritual nyekar atau menabur bunga di kuburan leluhur mereka. (lihat juga: Bea Cukai Indonesia)
    Kenduren likuran adalah upacara kenduren yang diadakan pada tanggal 21 bulan puasa dan dilakukan untuk memperingati turunnya Al-Qur’an atau Nujulul Quran. (lihat juga: Tradisi di Bali)
    Kenduren ba’dan adalah kenduren yang diadakan pada 1 Syawal atau selama hari Idul Fitri yang bertujuan untuk mengirimkan roh leluhur ke tempat peristirahatan mereka. (lihat juga: Kain Ikat Indonesia)
    Kenduren mengatakan adalah upacara ritual yang diadakan jika keluarga Jawa memiliki niat atau tujuan, misalnya ketika mereka ingin mengirim doa pada roh leluhur, sunat, pernikahan, dan sebagainya. (lihat juga: Jawa Indonesia)
    Kenduren muludan adalah upacara tradisional Jawa yang diadakan setiap 12 bulan Maulud dengan tujuan untuk memperingati Nabi Muhammad SAW. (lihat juga: Keragaman di Indonesia)

2. Upacara Larung Sesaji

Upacara Larung sesaji adalah upacara yang diselenggarakan oleh orang Jawa yang tinggal di pantai utara dan selatan Jawa. Upacara ini diadakan sebagai wujud rasa terima kasih atas hasil tangkapan ikan selama memancing dan sebagai permintaan agar mereka selalu diberikan keselamatan saat berbisnis. Berbagai bahan makanan dan hewan yang telah disembelih akan ditawarkan atau dibawa ke laut setiap 1 Muharram dalam upacara tradisional Jawa ini. (lihat juga: Gunung berapi di Indonesia)

Penduduk setempat akan mempersiapkan persembahan terbaik mereka untuk upacara ini karena mencerminkan rasa terima kasih mereka atas berkah Tuhan sepanjang tahun. Persembahan akan diatur dalam bentuk kerucut yang tinggi dan dihiasi dengan beberapa pita atau kertas warna.

BACA JUGA: Perilaku Budaya Orang Indonesia

3. Upacara Baritan

Upacara Baritan adalah upacara yang diadakan untuk menolak wabah. Tradisi ini berasal dari daerah Indramayu. Kata Baritan mungkin berasal dari bahasa Sunda yang berarti “waktu sebelum matahari terbenam” antara jam 4 hingga 6 sore. Baritan berarti keras, sementara burit berarti malam, istilah ini kemudian digunakan karena berkaitan dengan waktu upacara. (lihat juga: Sejarah Candi Prambanan)

Maksud dan tujuan upacara Baritan adalah untuk meminta kepada Allah SWT agar menjauhkan penduduk setempat dari wabah. Upacara Baritan terjadi ketika suatu daerah dilanda epidemi penyakit menular.

Seperti kolera, malaria, tipus, muntah dan disentri. Waktu yang tepat biasanya pada Kamis malam atau Jumat malam. (lihat juga: Grup Etnis Terbesar di Indonesia). Anggota masyarakat yang akan melaksanakan upacara Baritan membuat nasi kerucut yang dilengkapi dengan lauk pauk. Kerucut nasi tidak harus. Artinya, jika tidak mampu menyediakan atau membuat nasi tumpeng bisa diganti dengan kue atau buah saja.

4. Upacara Sekaten

Sekaten adalah upacara tradisional Jawa yang diadakan dalam tujuh hari sebagai peringatan ulang tahun Nabi Muhammad. Upacara ini awalnya berasal dari Surakarta. Berdasarkan asalnya, istilah Sekaten adalah nama upacara yang berasal dari istilah Syahadatain, yang dalam Islam dikenal sebagai frase tauhid. (lihat juga: Pasar Terapung Indonesia)

Upacara sekaten dilakukan dengan melepas dua alat gamelan dari keraton keraton, yaitu gamelan Kyai Gunturmadu dan gamelan Kyai Guntursari untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Setiap tahun, turis dari seluruh Indonesia dan bahkan dari luar negeri datang ke Surakarta untuk menyaksikan upacara yang indah ini.

5. Upacara Pernikahan Tradisional Jawa

Dalam pernikahan tradisional Jawa juga dikenal sebagai upacara pernikahan yang sangat unik dan sakral. Tradisi pernikahan ini sangat terkenal karena tahapan uniknya yang harus dilalui oleh pengantin wanita dan pria. (Lihat juga: Bencana di Indonesia)

Banyak tahapan yang harus dilalui dalam upacara adat Jawa ini, mulai dari upacara siraman, upacara ngerik, midodareni, srah-srahan atau peningsetan, nyantri, upacara tanten atau penganten, upacara balet, ritual wiji dadi, ritual kacar kucur atau ritual tampa kaya , ritual dhahar klimah atau dhahar kembul, upacara sungkeman dan sebagainya. (lihat juga: Kain Terindah di Indonesia)

Orang awam mungkin berpikir bahwa tahapan ini sangat rumit. Tetapi, bagi orang Jawa tahap-tahap ini tidak boleh dilewatkan karena ini sangat penting dan memiliki maknanya sendiri.

Budaya Pernikahan Indonesia – Tradisi Jawa Lainnya (6-10)

Ada beberapa tradisi Jawa lainnya yang umumnya dapat ditemukan masih dipegang oleh orang Jawa. Sebagai berikut:

6. Upacara Grebeg

Selain upacara kenduren, di Jawa juga dikenal dengan Upacara Grebeg. Upacara ini sangat sering diadakan di Solo dan Yogyakarta. Upacara ini diadakan 3 kali setahun, yaitu 12 Mulud (bulan ketiga), 1 Sawal (bulan kesepuluh) dan 10 Besar (bulan kedua belas). Tujuan dari upacara yang akan diadakan ini adalah sebagai bentuk rasa syukur dari kerajaan terhadap anugerah dan berkah Tuhan. (Baca juga: Javan Hawk – Orangutan Indonesia)

7. Upacara Ruwatan

Upacara Ruwatan adalah upacara tradisional Jawa yang dilakukan dengan tujuan untuk memurnikan seseorang dari semua nasib buruk, nasib buruk, dan memberikan keselamatan dalam hidup. Contoh-contoh upacara ruwatan seperti yang dilakukan di Dataran Tinggi Dieng. Anak-anak dengan rambut gimbal yang dianggap sebagai keturunan buto atau raksasa harus dapat dengan cepat dimurnikan agar bebas dari semua kesusahan. (Baca juga: boneka tradisional Indonesia – Festival di Indonesia)

8. Upacara Tedak Siten

Upacara tedak siten adalah upacara tradisional Jawa yang diadakan untuk bayi berusia 8 bulan ketika mereka mulai belajar berjalan. Upacara ini di beberapa daerah lain juga dikenal sebagai upacara peletakan batu pertama. Tujuan dari upacara ini tidak lain adalah sebagai ungkapan terima kasih orang tua atas kesehatan anak-anak mereka yang sudah mulai menapaki alam sekitarnya. (Baca juga: Pasar malam Indonesia – Bunga nasional Indonesia)

9. Upacara Tingkepan.

Upacara mitoni atau tingkepan dilakukan ketika seorang wanita hamil berusia 7 bulan. Rangkaian acara yang harus dijalankan dalam upacara mitoni meliputi pemandian bunga. Setelah itu, ibu akan didoakan oleh para tetua agar bayi selamat sampai proses persalinan selesai. Upacara mitoni ini masih dilestarikan oleh orang Jawa di mana pun mereka berada sampai sekarang. (Baca juga: Natal di Indonesia – Ritual Kematian Tana Toraja)

10. Upacara Kebo Keboan.

Orang Jawa yang sebagian besar bekerja sebagai petani juga memiliki upacara ritual sendiri. Kebo keboan – seperti namanya, adalah upacara tradisional Jawa yang dilakukan untuk menolak semua bala bantuan dan bencana pada tanaman yang mereka tanam, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan panen yang memuaskan. Dalam upacara ini, 30 orang berpakaian seperti kerbau dan akan diarak keliling desa. Mereka akan berpakaian dan berjalan seperti kerbau membajak sawah. (lihat juga: Tarian Bali – Mengapa Indonesia Penting)

Lihat Juga: Bangga Menjadi orang Indonesia

Ada begitu banyak tradisi Jawa yang mewakili setengah dari budaya Jawa. Karena itu, orang Jawa tetap berpegang teguh pada tradisi mereka selain menjaga budaya mereka tetap ada. Mereka bangga karena mereka memiliki begitu banyak tradisi yang terpesona dan unik yang berbeda dengan Budaya Indonesia lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *